trend menyekolahkan anak terlalu dini, apa dampaknya?

by - Juli 25, 2020

ibu dan ayah sibuk bekerja, biaya siap sedia dan sayang anak, membuat banyak orang tua merasa "harus" menyekolahkan anaknya diusia sangat dini. Bahkan sekarang ada yang menyekolahkan anaknya diusia 6 bulan. Tidak bisa saya bayangkan apa yang dipelajari dari bayi yang baru berusia 6 bulan di sebuah lembaga pendidikan.

apakah ini memang sudah menjadi kebutuhan anak? atau hanya trend yang bisa berdampak buruk untuk kehidupannya dikemudian hari?

sebenarnya usia berapakah usia yang pas untuk mulai menyekolahkan anak?

kurangnya ilmu membuat orang menjadi tidak memiliki prinsip sehingga cenderung mengikuti trend dari cara pengasuhan anak orang lain. Menurut Ely Risman dalam talkshownya di Program TV Net, bahwa pada anak usia dini, yang mereka butuhkan sebenarnya adalah attachment, kelengketan dengan ibu bapaknya. Meskipun di sekolah tersebut melibatkan orang tua si anak saat proses belajarnya, namun semestinya mereka masih harus mengasah motorik kasarnya di Rumah. 

banyak orang tua yang memikirkan harga mainan anak yang mahal dan tidak adanya fasilitas yang memadai di Rumah menjadikan kegiatan stimulasi anak dirasa menjadi hal yang sulit. namun nyatanya permainan yang paling bagus dan pasti juga disenangi anak adalah tubuh ibu bapaknya sendiri dan barang yang dibuat bersama bukan barang jadi hasil dari beli di toko mainan. banyak contoh permainan yang bisa dilakukan anak bersama orang tua, seperti bermain imajinasi, membuat DIY mainan dari bahan-bahan yang ada di Rumah bersama dan lain-lain sebagainya. Bisa juga dilihat contoh permainan bersama si kecil yang sudah pernah saya ulas sebelumnya disini.


Jadi menurut Ely Risman, Psikolog anak, waktu yang tepat untuk menyekolahkan anak (dalam hal ini adalah mulai masuk SD) adalah saat pusat otak sudah bersambungan yaitu di usia 7 tahun. Namun kenyataannya 80% anak Indonesia sudah dimasukkan ke Sekolah dasar sebelum waktunya. 

Lalu apa sih dampaknya jika kita sudah terlanjur menyekolahkan anak kita sebelum waktunya?

Neil Posmant yang merupakan guru besar pendidikan asal Amerika serikat menulis buku berjudul "The Lost Of Childhood", disitu ia menyebutkan “Janganlah kamu cabut anakmu dari dunia bermainnya terlalu cepat, karena engkau akan menemukan dunia dewasa yang kekanak-kanakan.

Selain itu bisa dilihat dari Teori tapal kuda, Semakin muda usia anak disekolahkan dini maka akan semakin tidak terdeteksi lah diusia berapa dia akan mengalami kebosanan. sedangkan pada anak yang sesuai usianya untuk mulai bersekolah, yaitu 7 tahun, maka sudah ada kurikulum yang dipersiapkan saat waktu bosannya itu datang, misalnya kelas 5 SD. Guru sudah mempersiapkan materi pelajaran yang mampu menanggulangi rasa kebosanan anak-anak tersebut.


Apa bedanya bermain di rumah dan bermain di Sekolah?

mereka di sekolah bermain juga namun permainan di Sekolah adalah permainan yang terstruktur, diatur, ini bisa mematikan kreatifitas anak. Dimana semestinya mereka masih ingin bermain dengan tanpa aturan yang ketat. 

motorik kasar anak usia dini yang belum terselesaikan dipaksa harus bisa lanjut belajar ke motorik halus, seperti anak yang baru merangkak dipaksa harus segera berjalan. Maka kakinya tidak akan kuat kan?

motorik berkaitan dengan perasaan, karena perasaanlah yang berkembang lebih dulu. Hal yang lebih penting mereka pelajari adalaj memahami perasaan orang lain, diri sendiri rasa empati. Inilah yang harus dikenali anak di usia 0-8 tahun. mempelajari perasaannya terlebih dahulu barulah memikirkan kognitifnya setelah usianya cukup.

memiliki anak sama seperti membangun perusahaan, tidak bisa asal jadi, tidak bisa asal punya saja. Namun perlu juga membuat perencanaan yang baik, kemudian perencanaan itu dijalankan dan selanjutnya lakukan evaluasi atas itu.

Tidak semua hal yang cepat itu baik ya ternyata. Kita perlu pikirkan psikologis mereka juga. Jangan sampai keputusan kita saat menentukan pilihan untuk memulai sekolahnya dengan harapan menjadi pintar malah akan membuat mereka bosan bahkan bisa depresi untuk bersekolah.

Mereka perlu 6 tahun untuk Sekolah dasar, 3 tahun Sekolah Menengah Pertama, dan 3 tahun Sekolah Menengah Atas loh nantinya. 12 tahun bukan perjalanan yang singkat kan. Jadi jangan renggut masa bermainnya terlalu dini ya mom, karena kita tidak bisa mengembalikannya lagi kemasa ini. semua percepatan itu tidak baik.

Salam Senyum 

You May Also Like

0 komentar