Mempersiapkan diri menjadi ibu rumah tangga yang bahagia

by - Juli 18, 2020

Ketika masa-masa di sekolah, pasti banyak mimpi yang ingin kita wujudkan setelah lulus kelak ya. Seperti ingin bekerja di perusahaan besar, menjadi bos besar, dan memiliki karir yang cemerlang. Ada ego yang bicara, pendidikanku harus membawaku untuk mempunyai karir dan penghasilan yang baik.

Namun seiring berjalannya waktu, aku menemukan titik dimana tujuanku sudah berubah. Goals hidupku sudah berbeda. Waktu dimana aku mulai mempunyai anak. Aku bukan lagi ingin membesarkan perusahaan, aku ingin berhasil dalam membentuk anak-anakku menjadi pribadi yang hebat dan baik. Akhirnya dari kegalauan bertahun-tahun itu, aku memutuskan untuk mundur dari rutinitas kantorku selama ini. Perempuan aktif dan mandiri yang terbiasa ikut membantu financial keluarga ini berhenti bekerja setelah memiliki anak kedua.

Banyak hal yang menjadi pertimbangan. Mulai dari tidak mudahnya mencari pengasuh yang baik dan punya keiklasan, visi dan misi yang sama dalam membentuk anak seperti yang kami mau. Belum lagi faktor biaya yang harus dikeluarkan untuk menjaga anak dan mengurusi rumah jika aku masih bekerja (FYI biaya pengasuh dan ART untuk mengurus 2 orang anak sama sekali nggak murah cuy, bahkan ada yang bisa menolak nggak bisa pegang sendiri loh) berarti paling tidak harus memperkerjakan 2 orang untuk itu dong. 

Selain itu, apakah worth it biaya yang sudah dikeluarkan untuk menggaji mereka (pengasuh) dengan hasil pembentukan karakter anakku kelak? Belum lagi melihat berita soal penyiksaan, pencabulan sampai perdagangan anak, haduh horor banget  kan. Akhirnya aku memantapkan hati untuk full time menjadi ibu.

Ternyata perpindahan profesi ini tidak semudah yang terlihat, banyak hal yang perlu dipersiapkan agar tujuan “menjadi full time mommy” bisa dicapai dengan baik.  Buat kamu yang juga memiliki rencana yang sama untuk menjadi Ibu rumah tangga yang bahagia sepertiku, pastikan untuk mempersiapkan hal-hal dibawah ini ya.

Mantapkan tujuan

Yakinkan hati, bahwa tujuan kamu berhenti bekerja ya karena ingin mengabdi dengan keluarga. Berarti harus siap dengan segudang urusan anak dan pekerjaan yang tidak ada jam kerja, jam istirahat, gaji, apalagi uang lembur. Dengan mengetahui tujuan utama, kita akan lebih ikhlas menjalaninya tanpa membuat semua ini menjadi beban.

Dengan ijin suami

Kalau case aku nih, malah suamiku duluan yang memberi wacana agar aku lebih fokus mengurus anak dan mencari nafkah akan sepenuhnya menjadi tanggung jawabnya. Jika suami sudah ridha, aku yakin insyallah jalannya akan dimudahkan Allah. Komunikasikan setiap keputusan besar seperti ini kepada pasanganmu ya.

Siap financial

Ini yang akan terasa sulit. Sumber pemasukan 2 cabang, kemudian menjadi 1 saja akan sangat mempengaruhi lifestyle keluarga. Perhitungkan pengeluaran dan pemasukan secara matang, apakah bisa tertutupi dari 1 penghasilan? Semua cicilan, kebutuhan dan gaya hidup harus benar-benar diperhitungkan. Jangan sampai besar pasak dari pada tiang. Jangan sampai niat mengurus anak sendiri malah membuat si anak kurang makan karena uang belanja yang kurang. Hheee.  

Siap mental/ ikhlas

Harus bisa menerima bahwa kita tidak lagi bisa lagi menghasilkan seperti sebelumnya. Namun dengan tidak berpenghasilan lagi seperti dulu, bukan berarti kita  tidak berharga. Niatkan karna Allah, karena ibadah. Ikhlaskan dan jalani.

Relasi/ lingkup pertemanan berkurang

Jika saat bekerja kantoran pasti memiliki teman sharing, ataupun hanya teman untuk makan siang sama-sama, setelah jadi IRT, ya lingkup kita hanya suami, anak, dan pekerjaan rumah. Bisa sih kita tetap punya teman untuk bersosialisasi, namun waktu yang dibutuhkan tidak akan sefleksibel dulu, perlu menyesuaikan dengan jadwal kegiatan suami, anak dan pekerjaan rumah.

Suport sistem yang kuat

Menjadi ibu rumah tangga itu sama sekali tidak mudah ya, tidak ada juga teori dan pendidikan khususnya untuk menjadi IRT yang baik itu seperti apa, semua belajar dari waktu dan pengalaman. 
Terkadang ada masa dimana saat capek mengurusi rumah dan anak, dan kondisi badan yang tidak fit, membuat kita merasa drop tidak berguna dan berharga. Maka keluarga khususnya suami adalah sosok pendukung utama untuk menunjang kesehatan mental kita moms. Karena dari pengalaman pribadiku, saat kondisi seperti itu, anak akan jadi sasaran utama atas kemarahan si ibu. Walaupun mungkin tidak ada niat langsung ibu untuk melampiaskan ketidaknyamanan perasaannya ke anak.


Menjadi ibu yang bahagia

menjadi Ibu rumah tangga sebenarnya tidak sehoror itu kok, asal kita sudah  malakukan persiapan seperti yang sudah disebutkan diatas sebelumnya, insya allah semua akan berjalan dengan ringan. Jangan lupa untuk sempatkan me time, sesekali beri waktu dirimu untuk bersenang-senang sejenak. Menghargai kerja keras badan kita sendiri setelah letih bekerja. Selalu syukuri dan jalani, karena dengan bersyukur, Allah akan menambahkan nikmat untukmu.
Selain itu aku juga selalu bentuk kerjasama yang baik dengan anggota keluarga yang lain, seperti suami dan anak-anak. Melibatkan mereka juga atas kebersihan dan kerapihan rumah misalnya. Sepakati bahwa hal itu adalah tanggung jawab bersama dan bukan hanya tugas ibu saja. Sehingga sepakat dengan suami bahwa kita bukan pembantu, terkadang menjadi IRT sering disamakan dengan pekerjaan ART/ pembantu. Jangan sampai niat baik untuk mengabdi malah ternodai dengan anggapan tersebut.

Kebahagiaan anak bergantung kepada kebahagiaan ibu juga. Ingat ya, anak tidak butuh ibu yang sempurna melainkan ibu yang bahagia.Selamat menjalankan tugas bu ibu, semoga selalu kita semua diberikan kekuatan dan kesehatan selalu ya. 

Salam senyum :)




You May Also Like

0 komentar