Jumat, 31 Juli 2020

Virus Dan Asap Mana Yang Merusak



Egoisme menurut mesin pencari adalah menempatkan diri ditengah satu tujuan serta tidak peduli dengan penderitaan orang lain termasuk yang dicintainya. Ini yang aku tangkap dari seorang perokok. Nikmat merokok hanya sementara dan hanya dirinya saja yang merasakan, namun asap yang mereka timbulkan menyebar kemana-mana tanpa bisa dikontrol, bahkan sampai bisa menempel di dinding rumah atau mobil dalam waktu lama. Belum lagi efek penyakit yang ditimbulkan akibat merokok pasif yang tidak kalah berbahayanya.

Bapakku Si Pecandu

Saat anak-anak lain sibuk bermain dengan riang, dia harus putar otak bagaimana caranya nasi bisa sampai ke perutnya. kerja keras sudah menjadi makanannya. Saat lahir bapaknya sudah tiada karena menjadi pejuang kemerdekaan saat itu. Saat SD kelas 5, si anak bontot ini mulai keluar rumah dan memutuskan untuk tidak bergantung dengan ibunya yang memilik 4 anak lainnya. Jadi saat itu rokok menjadi teman setianya untuk merasa bahagia walau sementara.

Seiring berjalannya waktu, semakin candu semakin butuh. Tidak ada hari terlewatkan tanpa menghisapnya, sampai aku remaja dan mulai tahu bahayanya. Awalnya aku tegur perlahan sampai akhirnya kita sering berdebat karena ini. Akhirnya aku mulai dapat ide, dengan menyembunyikan benda itu setiap aku dapati di Rumah. Bapak selalu mencari dan menuduhku menyembunyikannya, dan aku selalu jawab “tidak tahu”. Saat aku berhasil sembunyikan 1, ternyata besoknya aku temui lagi yang lainnya. Ternyata bapakku selalu beli lagi saat dia tidak berhasil menemui barang itu. Lalu esoknya aku lakukan hal yang sama, namun kali ini bukan disembunyikan, melainkan mengambil bungkus rokok bapak, kemudian aku isi dengan air lalu diletakkan kembali ditempat semula. Bapak mulai murka, kita bukan lagi berdebat tapi berantem setiap hari karena ini. Bapak sampai sempat berucap “ini beli pakai duit bapak dan tidak minta kamu, bapak tinggal beli lagi” lalu aku jawab “tapi kalau bapak sakit aku yang jagain, bukan rokok itu”.

Aku sering menangis karena ini, karena aku sayang bapak aku tidak boleh patah semangat. Aku ambil majalah dan koran di rumah, lalu aku gunting iklan-iklan larangan merokok yang ada disitu lalu ditempelkan ke sudut-sudut rumah yang bapak sering lewati, seperti pintu, cermin, lemari, tembok dan lain-lain. Seperti yang bisa diduga, bapak merobek semuanya tapi aku terus melakukannya. Tidak ada perbincangan lain kami selain perihal ini.

Sampai suatu hari bapak harus dirawat, saat itu karena penyakit typus. Karena ibu bekerja, jadi aku dan ibu bergantian menjaga bapak di RS. Disitu kami mulai dekat lagi. Lalu sampailah di satu momen dimana aku minta 1 hal saja dari bapak, untuk berhenti. Dan disitu dia bilang, “pulang dari sini bapak nggak akan merokok lagi”. Ah, bahagia sekali rasanya, doaku, usaha, dan perang kita tidak sia-sia. Puluhan tahun ia candu akhirnya bisa berhenti juga. Ini membuktikan bahwa candu tidak bisa jadi alasan untuk tidak bisa berhenti.

Mengapa Memulai?

Saat ini anak usia sekolah sadar sudah banyak yang candu terhadap rokok, bahkan saat masih memakai seragam. Keluarga, Sekolah, Lingkungan dan Media tidak menjalankan perannya dengan baik? Ini tidak sepenuhnya menjadi benar. Karena saat ini orang tua yang perokok merasa tidak pantas untuk menegur anaknya yang akan merokok juga. Penyuluhan bahaya merokok di Sekolah kalah dengan ajakan teman saat nongkrong untuk merokok agar tidak "ketinggalan jaman". Lingkungan abai dan menganggap rokok menjadi hal yang wajar dikonsumsi oleh manusia. Kebanyakan masyarakat bahkan yang tidak merokok merasa malu untuk bersuara saat asap tersebut lewat diwajahnya dan secara tidak langsung paru-paru mereka juga ikut terpapar karnanya.  Dan Media merasa sudah mengikuti aturan untuk tidak menampilkan orang yang sedang merokok di semua iklannya. sehingga pembiaranpun sudah terjadi di semua lini.

Efek dan bahaya yang ditimbulkan menjadi tidak dihiraukan karena tidak semua perokok merasakannya. Banyaknya jumlah perokok yang masih sehat dan baik-baik saja meskipun perharinya dia bisa 2-3 bungkus setiap harinya. Hal yang harus diingat bahwa penyakit yang ditimbulkan dari rokok tidak terjadi secara langsung, asap perlu waktu untuk memenuhi dan menghitamkan paru-parumu, menggerogoti argan-organmu yang lain lalu mengurangi kualitas hidupmu secara bertahap seperti terkena Stroke. Tapi ada juga kok yang cepat diambil nikmat hidupnya, seperti mengalami serangan jantung misalnya. Jadi kamu mau pilih yang mana?

Virus dan Asap

Virus covid 19 memiliki ukuran yang sangat kecil, hanya sebesar 1/ 600 rambut kita. virus ini hidup di paru-paru, dan asap perokok akan masuk dan merusak paru-paru, virus ini menyedot makanan dan darah di paru-paru sehingga sangat mudah penyakit lain untuk masuk dan merusak paru-paru.

Sebagai cara mengendalikan konsumsi tembakau per 1 Januari 2020 cukai rokok di Indonesia sudah naik 23% dan eceran 35%, apakah sudah efektif menekan jumlah permintaan rokok? Ternyata menurut Profesor Hasbullah thabrany sebagai Ketua umum Komnas pengendalian tembakau dalam talkshownya di Radio Ruang Publik KBR menjelaskan, ini sangat belum efektif. Mengevaluasi tujuan UU Cukai rokok sebagai alat pengendali konsumsi, khususnya konsumsi bahan berbahaya untuk kesehatan dan dan lingkungan. Dilihat di 10 tahun yang lalu permintaan rokok di Indonesia hanya 220 Miliar batang, sedangkan sekarang masih 330 Miliar batang, sehingga masih sangat jauh dari kata mengendalikan. Belum lagi di 5 tahun terakhir ini di dapat data bahwa anak remaja semakin banyak yang mulai merokok. Berarti harga kenaikan tersebut masih sangat terjangkau untuk mereka. idealnya harga perbungkus rokok yang saat ini masih 20 ribuan/ batang menjadi 70 ribuan/ batang. Sehingga yang bertahan merokok hanya yang terbiasa dan mampu jadi diharapkan, anak-anak tidak akan memulai untuk merokok.

Reni nurhasanah seorang Dosen dan juga peneliti sekolah kajian stratejik dan global Universitas Indonesia menjelaskan, cukai tembakau ini merupakan salah satu yang paling efektif di berbagai negara terbukti dari kajian-kajiannya bahwa negara berhasil menurunkan prevalensi dengan mekanisme harga dengan menaikkan cukai.

Mengapa harus saat pandemi?

  1. Dimusim pandemi seperti ini, seluruh lapisan masyarakat terkena dampaknya mulai dari krisis kesehatan dan juga ekonomi. Dari sisi kesehatan anggota komunikasi publik gugus tugas percepatan penanganan Covid19 Reisa Broto asmoro menyebutkan, seseorang yang mengidap penyakit tidak menular (PTM) dan terjangkit virus Covid 19 disebut memiliki potensi fatal yang tinggi. Merokok membuat 14x lebih parah mengalami gejala covid 19.  Dikutip dari situs kementrian kesehatan, Merokok merupakan salah satu faktor resiko PTM penyebab penyakit seperti Kardiofaskular, Kangker paru-paru kronis dan diabetes. Selain itu merokok juga menyebabkan faktor resiko peyakit menular seperti TBC dan infeksi saluran pernapasan. Disisi lain, perusahaan rokok mengklaim telah terjadi peningkatan jumlah produksi dan naiknya permintaan rokok selama pandemi. Untuk itu pengendalian konsumsi rokok dimasa pandemi ini menjadi suatu keseharusan. Kita sebenarnya tahu pentingnya menekan rokok dimasa pandemi ini. mengingat ancaman dari rokok itu sendiri.
  2. Banyak sekali perusahaan melakukan pengurangan terhadap karyawannya. Peningkatan jumlah pengangguran membuat permintaan konsumsi rokokpun meningkat.
  3. Saat WFH (Work From Home) aktivitas banyak dilakukan di Rumah, yang sebelumnya tidak banyak merokok di Kantor karena keterbatasan waktu dan tempat, menjadi lebih leluasa melakukannya dimana saja dan kapan saja. Dan korbannya adalah anak, istri dan keluarga.
  4. Bantuan pemerintah untuk meringankan beban masyarakat terdampak Covid 19 berupa uang tunai  menjadi salah sasaran. Seharusnya uang tersebut diperuntukkan memenuhi kebutuhan dasar keluarga tetapi malah menjadi sumber pembelian rokok dan mampu mengesampingkan biaya pendidikan dan kebutuhan pokok yang lain.
  5. Ancaman kesehatan, 20 tahun lagi dikhawatirkan nantinya akan banyak generasi stunting/ gagal tumbuh kembang karena banyaknya anak yang terpapar rokok. Stunting bukan hanya menyerang fisik, tetapi juga perkembangan otaknya. Hal ini akan menjadi beban negara juga nantinya.


Siap Mati?

Umumnya, hal yang ditakuti manusia adalah kematian, namun ini tidak sejalan dengan prilakunya semasa hidup. iya benar saya bukan ustazah, namun setuju kan dengan pernyataanku barusan? Takut mati namun senang dengan hal yang membuatnya dekat dengan kematian itu sendiri terdengar konyol namun inilah adanya. Penyakit kronis yang mengintai memiliki resiko tinggi terhadap kematian kan.

Disaat banyaknya aturan perihal pentingnya penggunaan masker untuk saling menjaga dan terlindung dari covid 19, si perokok masih sibuk memasukkan racun lain yang sama-sama menyerang dan merusak organ paru-paru. Hal darurat yang harus dilakukan adalah Denormalisasi rokok yaitu dengan tidak menganggap rokok sebagai barang yang normal, ini dilakukan oleh semua pihak. Dan juga ketegasan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok mencapai harga 70.000 atau lebih per bungkusnya. Jika harga rokok naik, maka banyak yang akan tereliminasi untuk tidak memulai dan membeli rokok atau paling tidak bisa mengurangi konsumsi rokoknya perhari.

Bagaimana denganmu, apakah kamu juga setuju?


“Saya sudah berbagi pengalaman pribadi untuk #putusinaja hubungan dengan rokok atau dorongan kepada pemerintah untuk #putusinaja kebijakan pengendalian tembakau yang ketat. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog serial #putusinaja yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Indonesian Social Blogpreneur (ISB). Syaratnya bisa anda lihat disini”.

Sabtu, 25 Juli 2020

trend menyekolahkan anak terlalu dini, apa dampaknya?

ibu dan ayah sibuk bekerja, biaya siap sedia dan sayang anak, membuat banyak orang tua merasa "harus" menyekolahkan anaknya diusia sangat dini. Bahkan sekarang ada yang menyekolahkan anaknya diusia 6 bulan. Tidak bisa saya bayangkan apa yang dipelajari dari bayi yang baru berusia 6 bulan di sebuah lembaga pendidikan.

apakah ini memang sudah menjadi kebutuhan anak? atau hanya trend yang bisa berdampak buruk untuk kehidupannya dikemudian hari?

sebenarnya usia berapakah usia yang pas untuk mulai menyekolahkan anak?

kurangnya ilmu membuat orang menjadi tidak memiliki prinsip sehingga cenderung mengikuti trend dari cara pengasuhan anak orang lain. Menurut Ely Risman dalam talkshownya di Program TV Net, bahwa pada anak usia dini, yang mereka butuhkan sebenarnya adalah attachment, kelengketan dengan ibu bapaknya. Meskipun di sekolah tersebut melibatkan orang tua si anak saat proses belajarnya, namun semestinya mereka masih harus mengasah motorik kasarnya di Rumah. 

banyak orang tua yang memikirkan harga mainan anak yang mahal dan tidak adanya fasilitas yang memadai di Rumah menjadikan kegiatan stimulasi anak dirasa menjadi hal yang sulit. namun nyatanya permainan yang paling bagus dan pasti juga disenangi anak adalah tubuh ibu bapaknya sendiri dan barang yang dibuat bersama bukan barang jadi hasil dari beli di toko mainan. banyak contoh permainan yang bisa dilakukan anak bersama orang tua, seperti bermain imajinasi, membuat DIY mainan dari bahan-bahan yang ada di Rumah bersama dan lain-lain sebagainya. Bisa juga dilihat contoh permainan bersama si kecil yang sudah pernah saya ulas sebelumnya disini.


Jadi menurut Ely Risman, Psikolog anak, waktu yang tepat untuk menyekolahkan anak (dalam hal ini adalah mulai masuk SD) adalah saat pusat otak sudah bersambungan yaitu di usia 7 tahun. Namun kenyataannya 80% anak Indonesia sudah dimasukkan ke Sekolah dasar sebelum waktunya. 

Lalu apa sih dampaknya jika kita sudah terlanjur menyekolahkan anak kita sebelum waktunya?

Neil Posmant yang merupakan guru besar pendidikan asal Amerika serikat menulis buku berjudul "The Lost Of Childhood", disitu ia menyebutkan “Janganlah kamu cabut anakmu dari dunia bermainnya terlalu cepat, karena engkau akan menemukan dunia dewasa yang kekanak-kanakan.

Selain itu bisa dilihat dari Teori tapal kuda, Semakin muda usia anak disekolahkan dini maka akan semakin tidak terdeteksi lah diusia berapa dia akan mengalami kebosanan. sedangkan pada anak yang sesuai usianya untuk mulai bersekolah, yaitu 7 tahun, maka sudah ada kurikulum yang dipersiapkan saat waktu bosannya itu datang, misalnya kelas 5 SD. Guru sudah mempersiapkan materi pelajaran yang mampu menanggulangi rasa kebosanan anak-anak tersebut.


Apa bedanya bermain di rumah dan bermain di Sekolah?

mereka di sekolah bermain juga namun permainan di Sekolah adalah permainan yang terstruktur, diatur, ini bisa mematikan kreatifitas anak. Dimana semestinya mereka masih ingin bermain dengan tanpa aturan yang ketat. 

motorik kasar anak usia dini yang belum terselesaikan dipaksa harus bisa lanjut belajar ke motorik halus, seperti anak yang baru merangkak dipaksa harus segera berjalan. Maka kakinya tidak akan kuat kan?

motorik berkaitan dengan perasaan, karena perasaanlah yang berkembang lebih dulu. Hal yang lebih penting mereka pelajari adalaj memahami perasaan orang lain, diri sendiri rasa empati. Inilah yang harus dikenali anak di usia 0-8 tahun. mempelajari perasaannya terlebih dahulu barulah memikirkan kognitifnya setelah usianya cukup.

memiliki anak sama seperti membangun perusahaan, tidak bisa asal jadi, tidak bisa asal punya saja. Namun perlu juga membuat perencanaan yang baik, kemudian perencanaan itu dijalankan dan selanjutnya lakukan evaluasi atas itu.

Tidak semua hal yang cepat itu baik ya ternyata. Kita perlu pikirkan psikologis mereka juga. Jangan sampai keputusan kita saat menentukan pilihan untuk memulai sekolahnya dengan harapan menjadi pintar malah akan membuat mereka bosan bahkan bisa depresi untuk bersekolah.

Mereka perlu 6 tahun untuk Sekolah dasar, 3 tahun Sekolah Menengah Pertama, dan 3 tahun Sekolah Menengah Atas loh nantinya. 12 tahun bukan perjalanan yang singkat kan. Jadi jangan renggut masa bermainnya terlalu dini ya mom, karena kita tidak bisa mengembalikannya lagi kemasa ini. semua percepatan itu tidak baik.

Salam Senyum 

Minggu, 19 Juli 2020

Pengalaman melahirkan dengan menggunakan BPJS Kesehatan

Tahun 2019 kemarin aku melahirkan anak keduaku di RSIA Tiara, Tangerang. Ini pengalaman pertamaku melahirkan dengan menggunakan fasilitas asuransi pemerintah BPJS Kesehatan. Awalnya sempat ragu, apakah akan dilayani dengan baik? Takut akan mendapatkan kendala yang nantinya malah akan menghambat kelancaran proses melahirkanku.

Dari awal kehamilan, seperti biasa aku kontrol bayiku dengan dokter kandungan di rumah sakit dan masih menggunakan biaya pribadi. Sampai memasuki masa kehamilan di 7 bulan, barulah aku menetapkan hati untuk menggunakan BPJS. 

Sekilas info, bahwa tidak semua rumah sakit menerima pelayanan BPJS kesehatan apalagi untuk kasus melahirkan. Di faskes pertama, pemeriksaan kandungan dibatasi frekuensi kontrolnya yaitu hanya 1 kali saat trimester pertama, 1 kali di trimester kedua dan 2 kali di trimester ke tiga. Pengecekan hanya dilakukan oleh Bidan (bukan dokter kandungan) di faskes pertama/ Puskesmas dan tidak ada fasilitas USG juga. Hanya menggunakan perhitungan dan sentuhan, tanpa pengguaan alat kedokteran seperti di rumah sakit. Namun dalam kondisi tertentu bisa saja faskes pertama membuat surat pengantar untuk USG di rumah sakit yang bekerja sama, guna mengecek lebih jelas perihaal posisi bayi atau keadaan pasien.

Namun diluar jumlah “jatah” kontrol yang sudah ditetapkan tersebut. Ibu juga bisa tetap bertemu dengan bidan di faskes pertama jika merasa ada keluhan atau ketidak nyamanan dalam kandungan. Oiya, jangan sampai lupa untuk selalu membawa foto copy KTP, foto copy Kartu Keluarga dan foto copy Kartu BPJS ibu setiap kali kontrol ya.

Jadi waktu mulai memutuskan untuk memakai BPJS di bulan ke 7. Aku mendatangi faskes pertama. Seperti biasa sebelumnya di cek tekanan darah dan timbang berat badan. Saat mulai bertemu dengan bidannya untuk pertama kali, dia hitung HPL (Hari Perkiraan Lahir) ku sehingga ia tahu aku sudah akan memasuki trimester ke 3, bidan tersebut menjelaskan perihal “jatah kontrol” dalam aturan BPJS Kesehatan. Karena sebelumnya di trimester pertama aku tidak cek disana, maka selanjutnya tidak bisa lagi menggunakan “jatah” tersebut. 

Lalu aku coba untuk kontrol ke Puskesmas, ternyata disana dia bisa menerima pasien dari faskes manapun. Akhirnya aku mulailah untuk kontrol disana. Karena ada syarat untuk harus mengisi buku panduan paling tidak 2 kali sebelum waktunya melahirkan. FYI, saat dokter kandungan tidak diwajibkan untuk mengisi buku tersebut, namun di bidan, pengisian buku itu wajib hukumnya. Ini dilakukan agar siapapun bisa membantu proses melahirkan karena sudah adanya rekap keadaan pasien (ada di buku pink halaman 20 dan 21).

Untuk mendapatkan pelayanan BPJS Kesehatan saat melahirkan bisa memperhatikan hal-hal sebagai berikut.


Ibu Wajib memiliki BPJS Kesehatan yang aktif 
Untuk BPJS Kesehatan anak yang akan dilahirkan, bisa diproses setelah melahirkan atau bisa juga dibuat saat masih di kandungan. Kalau aku, setelah mehirkan barulah memproses BPJS anakku dengan mengirimkan Surat tanda Lahir yang di keluarkan RS lalu dikirim ke bagian kepegawaian di kantorku saat itu. Dan langsung dibuatkan deh BPJS Kesehatan anakku. Sehingga tidak ada biaya yang keluar sama sekali mulai dari tindakan untukku maupun untuk anakku, semua sebesar Rp. 0.

Wajib memiliki buku pink (Buku Kesehatan Ibu dan Anak)
Buku ini bisa didapat di bidan, faskes pertama atau Puskesmas terdekat secara gratis. Fungsinya adalah sebagai rekap kondisi kesehatan ibu saat mengandung sampai melahirkan dan juga tumbuh kembang anak. Buku ini harus selalu dibawa saat kontrol kandungan.
Setidaknya 2 kali sebelum waktu melahirkan tiba, buku ini harus terisi khususnya untuk di halaman 20 dan 21 saat kontrol sebelum melahirkan. Ini bertujuan untuk mempersiapkan kelahiran agar siapapun yang membantu proses melahirkan bisa melihat data tersebut sebagai petunjuk bagi keadaan pasien tersebut.


Menyiapkan berkas yang harus dibawa saat melahirkan, yakni foto copy halaman IV, 19 dan 20 dari buku pink, KTP ibu, KTP suami, Kartu Keluarga masing-masing sebanyak 5 lembar.

Setiap faskes pertama memiliki rujukan bidan masing-masing untuk bisa membantu proses melahirkan (tidak bisa melahirkan di klinik faskes pertama ya), kecuali puskesmas yang memiliki ruang khusus untuk persalinan. Dimanapun pilihan faskes pertama kita, puskesmas tetap bisa menerima kontrol kandungan maupun tindakan melahirkan.
Saat itu, aku sudah mendatangi rujukan faskes pertama,tempat praktek bidan tersebut cukup jauh dari rumahku. Karena jarak dan dirasa kurang nyaman akhirnya aku pilih puskesmas sebagai tempat melahirkan ku nanti. Jujur saja aku saat itu masih berharap melahirkan di rumah sakit sih dari pada puskesmas. Hhee

Menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan untuk melahirkan biasanya hanya bisa dilakukan untuk kondisi dimana tidak memungkinkannya si bayi dan atau ibu untuk melakukan proses melahirkan secara normal. Namun pada case aku, aku alhamdillah bisa melahirkan normal, namun bisa menggunakan layanan kesehatan BPJS. Singkat cerita ini bisa terjadi  karena aku mulai di faskes pertama, namun ternyata harus dirujuk ke rumah sakit. Saat dirumah sakit sudah di persiapkan akan opersasi sesar namun sebelum waktunya si bayi mau lahir sendiri. Alhamdulillah. Cerita lengkapnya insyallah ada di next post ya. 

Melahirkan merupakan proses yang tidak mudah dan cukup menguras biaya, untuk ibu dan keluarga. Jika kita mempunyai BPJS Kesehatan, beban tersebut akan terasa lebih ringan kan. Yang penting selalu rutin bayar perbulannya ya. Dengan begitu semakin banyak yang bisa tertolong. Seperti slogan BPJS Kesehatan “dengan gotong royong semua tertolong”.  nggak usah gengsi, toh kita bayar tiap bulan kan. Semoga program ini tepat sasaran sehingga banyak yang bisa terbantukan ya. pelayanannya juga udah ok banget kok. selamat mencoba.


Sehat selalu para bumil, semoga dilancarkan proses melahirkannya. Aamiin

Salam senyum :)

Sabtu, 18 Juli 2020

Mempersiapkan diri menjadi ibu rumah tangga yang bahagia

Ketika masa-masa di sekolah, pasti banyak mimpi yang ingin kita wujudkan setelah lulus kelak ya. Seperti ingin bekerja di perusahaan besar, menjadi bos besar, dan memiliki karir yang cemerlang. Ada ego yang bicara, pendidikanku harus membawaku untuk mempunyai karir dan penghasilan yang baik.

Namun seiring berjalannya waktu, aku menemukan titik dimana tujuanku sudah berubah. Goals hidupku sudah berbeda. Waktu dimana aku mulai mempunyai anak. Aku bukan lagi ingin membesarkan perusahaan, aku ingin berhasil dalam membentuk anak-anakku menjadi pribadi yang hebat dan baik. Akhirnya dari kegalauan bertahun-tahun itu, aku memutuskan untuk mundur dari rutinitas kantorku selama ini. Perempuan aktif dan mandiri yang terbiasa ikut membantu financial keluarga ini berhenti bekerja setelah memiliki anak kedua.

Banyak hal yang menjadi pertimbangan. Mulai dari tidak mudahnya mencari pengasuh yang baik dan punya keiklasan, visi dan misi yang sama dalam membentuk anak seperti yang kami mau. Belum lagi faktor biaya yang harus dikeluarkan untuk menjaga anak dan mengurusi rumah jika aku masih bekerja (FYI biaya pengasuh dan ART untuk mengurus 2 orang anak sama sekali nggak murah cuy, bahkan ada yang bisa menolak nggak bisa pegang sendiri loh) berarti paling tidak harus memperkerjakan 2 orang untuk itu dong. 

Selain itu, apakah worth it biaya yang sudah dikeluarkan untuk menggaji mereka (pengasuh) dengan hasil pembentukan karakter anakku kelak? Belum lagi melihat berita soal penyiksaan, pencabulan sampai perdagangan anak, haduh horor banget  kan. Akhirnya aku memantapkan hati untuk full time menjadi ibu.

Ternyata perpindahan profesi ini tidak semudah yang terlihat, banyak hal yang perlu dipersiapkan agar tujuan “menjadi full time mommy” bisa dicapai dengan baik.  Buat kamu yang juga memiliki rencana yang sama untuk menjadi Ibu rumah tangga yang bahagia sepertiku, pastikan untuk mempersiapkan hal-hal dibawah ini ya.

Mantapkan tujuan

Yakinkan hati, bahwa tujuan kamu berhenti bekerja ya karena ingin mengabdi dengan keluarga. Berarti harus siap dengan segudang urusan anak dan pekerjaan yang tidak ada jam kerja, jam istirahat, gaji, apalagi uang lembur. Dengan mengetahui tujuan utama, kita akan lebih ikhlas menjalaninya tanpa membuat semua ini menjadi beban.

Dengan ijin suami

Kalau case aku nih, malah suamiku duluan yang memberi wacana agar aku lebih fokus mengurus anak dan mencari nafkah akan sepenuhnya menjadi tanggung jawabnya. Jika suami sudah ridha, aku yakin insyallah jalannya akan dimudahkan Allah. Komunikasikan setiap keputusan besar seperti ini kepada pasanganmu ya.

Siap financial

Ini yang akan terasa sulit. Sumber pemasukan 2 cabang, kemudian menjadi 1 saja akan sangat mempengaruhi lifestyle keluarga. Perhitungkan pengeluaran dan pemasukan secara matang, apakah bisa tertutupi dari 1 penghasilan? Semua cicilan, kebutuhan dan gaya hidup harus benar-benar diperhitungkan. Jangan sampai besar pasak dari pada tiang. Jangan sampai niat mengurus anak sendiri malah membuat si anak kurang makan karena uang belanja yang kurang. Hheee.  

Siap mental/ ikhlas

Harus bisa menerima bahwa kita tidak lagi bisa lagi menghasilkan seperti sebelumnya. Namun dengan tidak berpenghasilan lagi seperti dulu, bukan berarti kita  tidak berharga. Niatkan karna Allah, karena ibadah. Ikhlaskan dan jalani.

Relasi/ lingkup pertemanan berkurang

Jika saat bekerja kantoran pasti memiliki teman sharing, ataupun hanya teman untuk makan siang sama-sama, setelah jadi IRT, ya lingkup kita hanya suami, anak, dan pekerjaan rumah. Bisa sih kita tetap punya teman untuk bersosialisasi, namun waktu yang dibutuhkan tidak akan sefleksibel dulu, perlu menyesuaikan dengan jadwal kegiatan suami, anak dan pekerjaan rumah.

Suport sistem yang kuat

Menjadi ibu rumah tangga itu sama sekali tidak mudah ya, tidak ada juga teori dan pendidikan khususnya untuk menjadi IRT yang baik itu seperti apa, semua belajar dari waktu dan pengalaman. 
Terkadang ada masa dimana saat capek mengurusi rumah dan anak, dan kondisi badan yang tidak fit, membuat kita merasa drop tidak berguna dan berharga. Maka keluarga khususnya suami adalah sosok pendukung utama untuk menunjang kesehatan mental kita moms. Karena dari pengalaman pribadiku, saat kondisi seperti itu, anak akan jadi sasaran utama atas kemarahan si ibu. Walaupun mungkin tidak ada niat langsung ibu untuk melampiaskan ketidaknyamanan perasaannya ke anak.


Menjadi ibu yang bahagia

menjadi Ibu rumah tangga sebenarnya tidak sehoror itu kok, asal kita sudah  malakukan persiapan seperti yang sudah disebutkan diatas sebelumnya, insya allah semua akan berjalan dengan ringan. Jangan lupa untuk sempatkan me time, sesekali beri waktu dirimu untuk bersenang-senang sejenak. Menghargai kerja keras badan kita sendiri setelah letih bekerja. Selalu syukuri dan jalani, karena dengan bersyukur, Allah akan menambahkan nikmat untukmu.
Selain itu aku juga selalu bentuk kerjasama yang baik dengan anggota keluarga yang lain, seperti suami dan anak-anak. Melibatkan mereka juga atas kebersihan dan kerapihan rumah misalnya. Sepakati bahwa hal itu adalah tanggung jawab bersama dan bukan hanya tugas ibu saja. Sehingga sepakat dengan suami bahwa kita bukan pembantu, terkadang menjadi IRT sering disamakan dengan pekerjaan ART/ pembantu. Jangan sampai niat baik untuk mengabdi malah ternodai dengan anggapan tersebut.

Kebahagiaan anak bergantung kepada kebahagiaan ibu juga. Ingat ya, anak tidak butuh ibu yang sempurna melainkan ibu yang bahagia.Selamat menjalankan tugas bu ibu, semoga selalu kita semua diberikan kekuatan dan kesehatan selalu ya. 

Salam senyum :)




Minggu, 12 Juli 2020

Kegiatan Untuk Si Kecil Saat Masa Pandemi

Apakah anak mom masih dibebaskan untuk bermain diluar?

Kesibukan orang tua, tidak bisa menjadi alasan kita untuk mengabaikan keselamatan kesehatan mereka loh. Sebaiknya sih kita masih menjaga anak-anak kita untuk tetap di rumah saja jika tidak ada keperluan mendesak yang mengharuskan mereka keluar rumah.

Bagaimana membuat dunia permainan mereka tidak stuck di televisi dan gadget saja meskipun #DiRumahAja. Aku punya beberapa kegiatan nih yang bisa aku lakukan bersama anak - anak dimasa pandemi agar mereka tidak merasa bosan. 

Banyak permainan jaman dulu yang sudah mulai ditinggalkan tetapi sebenarnya masih sangat seru dan pasti disukai anak-anak untuk dilakukan bersama keluarga. Hanya menggunakan alat yang sederhana lagi, seperti dibawah ini contohnya yuk disimak:

Bermain bersama melibatkan anggota keluarga


- Pesawat-pesawatan



Ini bisa dilakukan di tempat tidur dengan cara menjepit kaki anak dengan kaki kita lalu angkat badannya.

- Kuda-kudaan bisa dilakukan bersama ayah/ ibu
anak menaiki punggung saat posisi orang tua merangkak, ini seru sekali loh, anak akan merasakan sensasi naik kuda beneran.

- Bernyanyi bersama- sama dengan melakukan gerakan tertentu
Contoh lagu yang bisa dibuat gerakan seperti lagu "kalau kau senang hati", "Kepala pundak lutut kaki" atau lagu karangan sendiri. Sejak memiliki anak, aku suka buat lagu anak sendiri. Yang penting kita ekspresif saat bernyanyi, heboh dan aktraktif, anak pasti ikut girang dan mau ikut serta.

- Bermain wayang tangan
Dengan mematikan lampu dan mengarahkan senter ke langit-langit kamar, tangan kita bisa dibuat bentuk hewan, seperti burung, buaya, kancil, dan lain sebagainya.

- Membuat puzzle dari majalah bekas 



Bisa dibuat oleh ibu/ ayah/ kakak dengan memotong sebuat gambar menjadi beberapa bagian dan bentuk, lalu anak diminta untuk merangkai gambar tersebut menjadi utuh kembali

- Bermain petak umpat di rumah
sekat atau ruangan dirumah bisa dijadikan tempat bermain untuk bersembunyi, ayo cari dimana aku?!

- Bermain tenda-tendaan dengan menggunakan kardus bekas atau kain seprei/ selimut.
Tidak perlu membeli tenda mainan yang mahal, cukup manfaatkan kain yang ada di rumah, anak sudah girang deh pasti.

- Bermain kereta- keretaan
Dengan memasukan si anak kedalam keranjang pakaian lalu ditarik/ dorong oleh orang tuanya

- Bermain perosotan dari kasur yang dimiringkan
Hanya dengan kasur yang dimiringkan, jadilah perosotan portable. hihiii  . Ingat untuk tetap waspadai keamanannya ya mom.

- Sulap Tissu
Siapkan 1 buah tissu, spidol, piring  yang sudah disi sedikit air.
lipat tissu menjadi 2 bagian, gambar dan warnailah sesuatu disana secara perlahan, jangan sampai sobek (tanpa mengenai sisi 1 nya ya). kemudian lipat tisssu itu kembali. sisi yang kosongnya dihadapkan kearah atas sehingga bagian yang bergambar tidak terlihat. letakkan perlahan tissu tersebut ke piring, seperti sulap, tissu yang putih kosong tiba-tiba memunculkan gambar.

Membebaskan mereka melakukan apapun

Anak-anak terkadang juga perlu ruang sendiri. Mereka juga butuh berkembang. Terkadang batasan yang kita berikan kepada mereka membuat perkembangan otak dan kreativitasnya terhambat. Setiap hari, aku beri waktu mereka untuk melakukan apapun yang mereka mau, tentunya masih dalam pengawasan ya mom. Disitu kita bisa liat kreativitasnya muncul. Rumah jadi lebih berantakan? Pasti! Tapi rumah akan menjadi ruang belajar bagi anak-anak kita.

‌Membuat cemilan bersama

Dirumah saja membuat frekuensi makan kita semakin sering ya?
Agar lebih bersih dan sehat, mari buat cemilan anak kita sendiri. Mom bisa perlihatkan pilihan menu cemilan anak yang ada di internet, lalu biarkan si anak memilih kemudian siapkan dan buat bersama-sama deh.

Berjemur sambil berolahraga

Karena disini masih banyak anak-anak lain yang masih bebas bermain di luar dan tidak mengindahkan jaga jarak apalagi memakai masker, sesekali aku kumpulkan mereka dan menyuruhnya untuk membentuk barisan dengan merentangkan tangan, lalu mengajak mereka berolahraga bersama di depan rumah dengan aku sendiri sebagai pelatihnya. Selain membuat tubuh sehat, anak juga tidak bosan karena merasa bermain bersama teman-temannya, walaupun tidak berdekatan dan tetap aman karena masih dalam pengawasan kita langsung.

Sudah hampir 4 bulan kita semua berjuang untuk memutus mata rantai penularan virus covid 19 dengan mengikuti anjuran pemerintah #dirumahaja . Meskipun PSBB mulai dilonggarkan di beberapa lini, pusat perbelanjaan dan taman hiburan sudah mulai dibuka namun nyatanya angka positif corona belum juga menurun, malah semakin banyak saja. Berdasarkan data dari  https://covid19.go.id/ , kasus positif covid 19 per tanggal 11 Juli 2020  bertambah sebanyak 1671 orang, sehingga total positif covid 19 di Indonesia saat ini sudah mencapai 74.018 orang.

Menyikapi fakta ini, orang dewasa pasti sudah lebih aware lagi soal kebersihannya, seperti selalu memastikan tangan bersih dengan rajin mencuci tangan, menggunakan masker jika keluar rumah, menjaga jarak dengan orang lain di tempat umum minimal 1 meter, membawa handsenitizer kemana-mana, dan lain sebagainya. Tapi anak-anak pasti belum siap untuk melaksanankan protokoler yang semestinya. Oleh karna itu jaga sebaik-baiknya mereka dengan #DiRumahAja .

Semoga tips tadi bisa membantu. 
Yuk jaga anak- anak dan keluarga kita agar selalu sehat dan terhindar dari berbagai virus jahat ini.
Mereka Adalah Tanggung Jawab Kita



Salam Senyum :)



Jumat, 10 Juli 2020

Menjadi Guru untuk si Kecil Di Rumah



Sebelum musim pandemi seperti ini, setelah pulang sekolah, anak banyak habiskan waktunya di luar rumah. Mereka bermain dan belajar untuk bersosialisasi dengan teman sebayanya. Namun keadaan memaksanya untuk beradaptasi. Demi menjaga kesehatan dan memutus penularan virus covid 19, kita dianjurkan untuk #DiRumahAja jika tidak ada hal mendesak yang mengharuskan kita keluar rumah.

Kondisi ini sangat menyulitkan banyak pihak, tidak terkecuali kami, orang tua. Biasanya tugas belajar mengajar kami bagi dua dengan guru di Sekolah, namun kini tugas itu harus kami ambil alih di Rumah. Sebagai mombassador SGM Eksplor, aku banyak mendapat masukan perihal pola asuh dan tumbuh kembang anak guna menghasilkan Anak Generasi Maju. 

Awalnya agak kesulitan, karena harus menyesuaikan waktu dengan pekerjaan dirumah. Setelah itu ujian selanjutnya adalah “kesabaran”, lalu mentok di “konsistensi”. Ternyata memang tidak mudah untuk konsisten dengan penuh kesabaran mengajari anak di Rumah sesuai dengan kuriklum di Sekolah.

Hal ini tidak boleh jadi hambatan untuk menjadikannya Anak Generasi Maju, harus cari cara agar kami sama-sama tidak bosan dan stres menjalankan kebiasaan baru ini. sehingga aku memposisikan diriku sebagai teman untuk anakku. Membuatnya merasa nyaman dalam proses belajar mengajar membuat materi yang disampaikan lebih cepat diserap.

Setelah kegiatan belajar SFH (School From Home) selesai, kita biasanya bermain bersama. Aku harus memilih permainan seru yang bisa dilakukan bersama dan tetap ada unsur pembelajarannya, jadi permainan kita bukan hanya senang-senang saja, tapi juga ada pembelajarannya. 

Aku suka main “Tebak Objek” bersama Kyara. Caranya, aku meminta Kyara untuk memikirkan 1 benda. Lalu aku harus menebak apa benda yang dipikirkannya dengan mengajukan beberapa pertanyaan clue agar bisa menebak dan Kyara hanya boleh menjawab “iya” atau “tidak” saja.

Seru deh, Kyara jadi banyak tambahan perbendaharaan kata dan mengasah kreatifitas berpikirnya. Masih banyak lagi pilihan permainan seru lainnya yang bisa dicoba dan bisa disesuaikan dengan usia si kecil juga loh. Cuss deh cek website https://www.generasimaju.co.id/ajak-si-kecil-aktif-bermain-bersama-kakak-dan-adik-dengan-5-permainan-anak-ini dan akun sosial media @akuanakSGM .

Membiasakan anak untuk terbiasa gaya hidup sehat di Masa New normal seperti ini memang tidak mudah, awalnya anakku masih merengek untuk main dan jajan di Luar. Tapi pelan-pelan dijelaskan dan aku berusaha membuatnya nyaman keadaan dirumah dengan memfasilitasi apa yang dia mau dan butuhkan diluar untuk ada pula dirumah, salah satunya menyediakan cemilan yang enak dan tentunya mengandung nutrisi yang baik untuknya. Aku bahkan suka melibatkannya langsung saat proses pembuaatannya di Dapur. Selain membuat kita semakin dekat, ini juga melatih rasa ingin tahu dan melatih keterampilannya.


Kemarin aku coba buat Lumpia Jagung, resepnya aku dapat dari https://www.generasimaju.co.id/resep-lumpia-jagung-sgm-eksplor di website ini banyak pilihan resep yang mudah untuk dicoba, pasti disukai anak-anak dan tentunya mengandung nutrisi yang mereka butuhkan.

Jangan lupa untuk selalu memberikan si kecil susu  2x sehari untuk penuhi nutrisi hariannya, karena bisa membantu tumbuh kembangnya agar jadi lebih kuat, cerdas dan kreatif. 



Untuk bunda yang juga sering melibatkan si kecil saat memasak sajian untuknya, bisa banget nih untuk ikut kontes UGC recipe. Caranya gampang, ikuti step dibawah ini ya:

  • Pilih resep yang bunda dan si kecil suka di https://GenerasiMaju.co.id/bermain-bersama-bunda
  • Masak dan kreasikan resep pilihan bersama dengan si kecil
  • Foto dan upload momen masak bersama si kecil di Instagram dan atau Facebook
  • Ceritakan di caption tips bunda untuk stimulasi si kecilsaat masak bersama
  • Cantumpakn hastag #ResepGenerasiMaju, tag akun @AkuAnakSGM dan mention 3 orang teman bunda.
  • Periode kompetisi mulai 22 Juni – 12 Juli 2020


Yuk masih ada waktu untuk ikutan, jangan sampai kelewatan karena 20 foto terbaik akan mendapatkan kesempatan memenangkan voucher belanja Rp. 200.000. Lumayan banget kan untuk belanja kebutuhan dapur.

Jangan lupa untuk kunjungi website www.generasimaju.co.id atau hubungi Careline SGM di nomor 0800 1 360 360 agar tidak termakan isu simpang siur terkait nutrisi dan tumbuh kembang si Kecil.




Salam senyum :)