Edukasi Protokol Kesehatan Zaman Now

by - Oktober 04, 2020


Perkembangan kasus covid 19 di Indonesia semakin hari semakin memprihatinkan. Meskipun covid sudah hampir 7 bulan lamanya menyita perhatian semua orang, namun kurva pasien yang positif terus meningkat. Apa yang salah disini? Apakah penanganan pemerintah belum sesuai, atau memang kita sebagai masyarakatnya yang masih abai?

Rabu, 30 September kemarin saya mengikuti seminar online bersama teman – teman blogger yang diadakan oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia dengan Pembicara bapak Dr. Riskiyana sebagai Direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kemenkes RI. Tema yang diangkat adalah “Edukasi Protokol Kesehatan Zaman Now”.




Tujuan diadakan seminar ini adalah untuk menyadarkan bahwa virus ini nyata dan berbahaya sehingga penting untuk mengedukasi kembali protokol kesehatan agar pandemi ini cepat selesai.

Banyak orang bilang, “duh.. kapan ya pandemi ini selesai?” Atau mengeluh “kapan ya bisa ke mall?”, “kapan gue bisa liburan lagi nih kalau PSBB terus?”, dan masih banyk keluhan lainnya. Namun apakah sudah sesuai dengan usaha yang mereka lakukan untuk memutus penularan Covd 19.

Menurut hasil survei kepatuhan masyarakat dari Balitbangkes Kemenkes, sebanyak 68% masyarakat percaya pemerintah dapat menangani Covid 19 dan 91% masyarakat percaya tenaga kesehatan mampu menangani Covid 19.

Sekuat apapun aturan pemerintah dan seberapa hebatnya penanganan tenaga kesehatan tidak akan pernah cukup jika kesadaran kita masih sangat rendah dan abai dalam menjalankan protokol kesehatan.

Mengapa belum semua menerapkan protokol kesehatan?

Ada 2 faktor menurut Psikolog Dr. Rose mini yang biasa dipanggil bunda Romi, yaitu faktor Internal seperti Kurangnya moral vietue dan kesalahan proses belajar. Dan juga faktor Eksternal yang meliputi aturan yang tidak baku, ketiadaan contoh dan konsekuensi yang tidak ketat.

Virus ini merupakan ancaman yang tidak terlihat. Obat dan vaksin yang dapat mengendalikan vrus ini juga belum ditemukan. Untuk itu protokol kesehatan harus benar-benar dipahami dan dijalankan. Bukan dengan paksaan namun dijadikan suatu kebiasaan.




Yuk Adaptasi kebiasaan baru dengan 3 M berikut ini:

  • Mencuci tangan

Karena tangan adalah anggota tubuh yang paling sering kita gunakan untuk berhubungan dengan banyak hal, maka penting untuk menjaga kebersihannya.

Cuci tangan saat sebelum dan sesudah melakukan sesuatu. Banyak virus bertebaran di mana - mana diberbagai benda atau orang yang kita pegang. Jangan sampai tangan menyentuh mulut, hidung dan mata sebelum kamu mencucinya. 

Mencuci tangan harus menggunakan sabun, minimal 20 detik setiap kali cuci. Dengan mencuci tangan, kita bukan hanya melindungi diri dan keluarga namun juga melindungi orang lain. Karena meskipun kita terasa baik-baik saja, bisa saja kita termasuk OTG (Orang Tanpa Gejala) yang terlihat sehat, namun bisa menularkan virus ini ke orang lain.


  • Memakai Masker

Dengan menggunakan masker yang tepat, kita bisa mencegah keluar masuknya droplet (cairan dari mulut) yang bisa menjadi media penularan virus. Ada banyak tipe masker yang bisa dipilih, seperti masker N95, masker medik dan masker kain 3 lapis. 

Karena ukuran virus yang sangat kecil maka tidak disarankan untuk memakai masker scuba atau masker kain lainnya yang hanya terdiri dari 1 lapisan. Pakailah masker dengan benar saat keluar rumah dan tidak lupa untuk menggantinya secara berkala.


  • Menjaga jarak

Ini sangat efektif menghindari droplet terbang lalu hinggap ke atau dari kita. Namun hanya sekitar 35-40 % masyarakat yang patuh dengan jaga jarak. Hindari kerumunan dan tempat-tempat ramai. Untuk itu sangat disarankan untuk tetap berada dirumah jika tidak ada hal mendesak untuk keluar rumah. 

Dengan mengetahui bahaya, cara penularan dan cara menghindarinya, maka akan lebih ringan dalam menjalankan protokol kesehatan menjadikan dan menjadikannya sebagai kemudahan. 

Menurut Dr. Riskiyana, virus ini sebenarnya sangat lemah karena bisa sangat mudah hancur walaupun dengan sabun paling murah sekalipun. Namun, karena bentuknya yang sangat kecil membuat virus ini bukan hanya berupa droplet, namun juga bisa melayang dan terbang bersama udara.

Mulailah dari lingkup keluarga dahulu, untuk ubah perilaku sebagai pencegahan penularan covid 19.

Perilaku saat di Luar Rumah

  • Pakai masker
  • Membawa handsanitaizer
  • Jaga jarak 1-2 meter dengan orang lain
  • Jangan menyentuh area wajah sebelum cuci tangan dengan sabun

Perilaku Saat Di Dalam Rumah

  • Kurangi interaksi dengan tamu dan orang luar
  • Rajin ganti dan cuci masker setelah bepergian
  • Rutin membersihkan rumah dan benda-benda yang ada dengan disinfektan
  • Berjemur setiap pagi jam 10 selama 15 menit
  • Cuci tangan dengan sabun sesering mungkin dengan air mengalir terutama setelah pegang uang, sebelum makan, setelah memegang benda-benda diluar rumah
  • Istirahat yang cukup
  • Konsumsi gizi seimbang
  • Aktif bergerak dan tetap produktif di Rumah
  • Buat suasana dirumah nyaman agar tidak stres

Perilaku Saat Masuk Rumah

  • Hindari menyentuh apapun dan siapapun untuk langsung mencuci tangan, mandi dan berganti pakaian
  • Segera cuci masker dan pakaian bekas pakai dengan sabun
  • bersihkan barang-barang yang dibawa dari luar dengan disinfektan
  • Setelah yakin sudah bersih barulah bisa berinteraksi dengan keluarga


Hasil survei sosial demografi Dampak Covid 19, BPS 2020, didapat bahwa perempuan lebih mengetahui dan menerapkan physical distancing dibandingkan laki-laki. Sehingga diharapkan para ibu, maupun perempuan lainnya mampu mensosialisasikan hal tersebut kepada minimal keluarganya. Keluarga adalah satuan masyarakat terkecil. Disiplin dalam keluarga dan disiplin di masyarakat akan menjadi garda terdepan pencegahan Covid 19. 




Mari adaptasi kebiasaan baru dengan menerapkan Protokol kesehatan ini dengan benar, dilakukan bersama-sama dan konsisten dengan begitu akan terciptalah perlindungan kesehatan individu, perlindungan kesehatan masyarakat, lebih bersih, lebih sehat dan lebih taat. Sehingga masyarakat bisa hidup produktif dan aman dari Covid 19.

Ingat ya, virus ini memang ada, berarti kita juga harus optimis untuk bisa meniadakannya kembali.


Salam Senyum :)


You May Also Like

0 komentar