Apakah Masa Tua Pasti Akan Pikun?

by - September 21, 2020


Pasti kita sering menemukan cerita bahwa orang tua yang berusia lanjut mengalami pikun. Lupa akan apa yang baru saja ia lakukan, lupa dengan orang sekitar, atau bahkan terkadang lupa dengan anggota keluarganya sendiri. Tapi apakah hal ini normal dan pasti terjadi kepada mereka yang berusia lanjut?

Setiap manusia pasti ingin hidup sehat, tetap bisa aktif dan mandiri sampai tua. Namun nyatanya, dengan bertambahnya usia, kualitas hidup kita akan semakin menurun. Mulai banyak penyakit berdatangan dan jika sudah mengalami kepikunan akan membuat kita tidak lagi bisa mandiri untuk melakukan aktifitas dan harus bergantung dengan orang lain.



Dalam webinar kesehatan yang baru saja saya ikuti hari Minggu 20 September 2020 kemarin dalam rangka Festival digital bulan Alzheimer Sedunia, saya baru mengetahui bahwa Demensia Alzheimer atau biasa disebut “Pikun” menurut Dr Junita maja pertiwi Sp. S adalah Suatu kumpulan gejala klinis yang khas yang ditandai gangguan kognisi, prilakudan aktivitas kehidupan sehari-hari.

Dalam kehidupan sehari- hari, kita sering juga mengalami lupa akan suatu hal, seperti mencari kunci yang baru saja diletakkan, mencari kacamata yang ternyata ada di kepala dan masih banyak contoh kelupaan yang lainnya. Namun apakah itu termasuk gejala pikun?




Siapa saja yang beresiko terkena Demensia Alzheimer?

  1. Usia lanjut
  2. Diabetes melitus yang tidak terkendali
  3. Hipertensi
  4. Stroke dan Jantung koroner
  5. Kadar lemak tidak normal
  6. Obesitas
  7. Disfungsi thyroid
  8. Depresi
  9. Kekurangan fitamin B12
  10. Keturunan
  11. Merokok
  12. Kurang olahraga
  13. Pengaruh obat-obatan


Kenali gejala Pikun berikut ini, cek apakah sudah ada yang sesuai dengan kondisi anda?

  1. Gangguan daya ingat
  2. Disorientasi, bingung akan waktu (hari, tanggal), tidak tahu jalan pulang
  3. Menarik diri dari pergaulan
  4. Perubahan prilaku dan kepribadian
  5. Sulit melakukan pekerjaan yang familiar dan rutin
  6.  Kesulitan memahami visualspatial – sulit mengukur jarak, tidak dapat membedakan warna
  7. Sulit fokus
  8. Gangguan berkomunikasi- kesulitan bicara
  9. Salah membuat keputusan
  10. Menaruh barang tidak pada tempatnya

Cara terhindar dari Pikun



Mengobati pikun

Penyakit ini sebenarnya belum memiiki obat yang bisa menyembuhkan total, namun bisa mengurangi gejala, memperlambat perkembangan penyakit, membuat penderita dapat hidup semandiri mungkin serta beberapa penanganan yang harus dilakukan. Penganan mengatasi penyebab pikun, memberikan obat-obatan untuk memperbaiki gejala pikun dan meningkatkan fungsi otak, terapi stimulasi kognitif dan perawatan paliatif.


Mengapa menjadi penting untuk kampanye #Obatipikun saat ini?

Jadi Pikun itu bukan hal yang normal dalam proses penuaan. Pikun itu tidak wajar namun gejala dari penyakit Demensia Alzheimer. Dengan mengetahui gejala, cara penanggulangan dan juga pengobatannya, kita bisa mengusahakan untuk tidak mengalami hal tersebut nanti, mulai dari saat ini.

Tahun 2020 sudah lebih dari 50 juta orang yang mengalami Demensiadan terbanyak adalah Demensia Alzheimer yaitu 60-70%. Sehingga diperkirakan di tahun 2050 akan ada 131,5 juta orang akan mengalami Demensia.

Hal ini akan berpengaruh terhadap Kesejahteraan, usia harapan hidup, populasi usia lanjut dan masalah kesehatan lansia itu sendiri.


Untuk itu perlu sekali untuk mendeteksi dini apakah kita memiliki resiko tersebut. Dalam Webinar tersebut PERDOSSI yang disupport oleh PT Eisai Indonesia (PTEI)  meluncurkan aplikasi E- Memori Screening (EMS). Aplikasi ini yang mampu menjadi alat edukasi sekaligus bisa menjadi alat skrining Demensia dan sudah bisa di download secara gratis di Playstore maupun Appstore.




Dalam aplikasi ini terdapat artikel lengkap mengenai demensia, mampu menskrining dan terdapat deretori rumah sakit yang bisa dituju jika hasil skrining mengarah kepada gejala demensia. Sehingga si penderta bisa mendapatkan perawatan yang cepat, tepat dan dekat karena bisa disesuaikan lokasinya dengan yang terdekat dengan lokasi pasien.


Aplikasi ini mudah sekali digunakan, hanya dengan menjawab beberapa pertanyaan (dengan pilihan jawaban) dengan jujur sesuai kondisi yang sebenarnya. Kemudian akan muncul skornya. Jika hasil pemeriksaan/ skornya lebih dari 2, maka disarankan untuk segera menghubungi dokter. Cukup cari di Playstore atau appstore dengan nama EMS – Sahabat Kesehatan Otak Keluarga.


Keunggulan Aplikasi EMS

  • Mudah digunakan/ siapapun bisa menggunakan
  • Berisikan pertanyaan yang sudah ada pilihannya
  • Mobile friendly
  • Bisa digunakan untuk lebih dari 1 orang dalam 1 akun (bisa mengecek anggota keluarga lain)

Dengan aplikasi ini Kita bisa deteksi sedini mungkin, apakah kita memiliki resiko yang mengarah ke arah demensia. 

Semoga dengan membangun kesadaran masyarakat untuk menanggulangi gejala pikun sejak sejak dini, mampu membuat kehidupan lansia di Indonesia menjadi tetap sehat, menurunkan keluhan kesehatannya, tetap mandiri, aktif dan selalu produktif sehingga tidak ada ketergantungan terhadap orang lain.


Salam Senyum :)


 


 


  

You May Also Like

0 komentar